
"Tanda cinta karena Allah adalah, bahagia melihat orang yang dicintainya bahagia, meskipun bahagia orang yang dicintainya itu bukan bersamanya"
Ku balikan bagian jarik yang sobek setelah menjahit bagian yang lain
Akupun larut kembali dengan jahitanku dibawah temaram lentera kamar
Sekelebat kisah lalu membayangi pandanganku dengan tiba-tiba
Aku terdampar sesaat dan tersadar kembali, oleh tusukan jarum di jari telunjukku
Setetes darah jatuh, diatas kain jarik yang ku pegang
"Pertama kali melihatmu jiwaku bergetar"
"Airlangit kau adalah bunga terindahku"
Pandanganku kabur oleh air mata
Buru-buru Ku seka Air mataku dengan ujung jilbab
Kemudian ku alihkan pandangan ku kepada pria yang tertidur damai disampingku
Hatiku tenang kembali
Tanpa sadar aku tersenyum tipis, melihat wajahnya
*
Ku bawa secangkir teh untuk seorang pria yang ketika melihat kehadiranku ia tersenyum lembut
Pria itu sedang duduk santai sambil membolak-balikan koran
Begitu ku taruh teh diatas meja, lagi-lagi ia tersenyum lembut
"Terimakasih air langit" ucapnya ramah dan mempengaruhiku mampu menembus nuraniku
Dia adalah pria yang aku cintai dan dia mencintaiku
Kisah kami bukan cerita fiksi
Dia memberikan kehidupan kepadaku
Dan aku_
"Raiha, istriku, knp kamu hanya berdiri saja" seorang pria datang dari arah belakang menyadarkanku ke alam nyata
Dengan segera ku tersenyum kepada suamiku dan mencoba mengabaikan pria yang duduk terdiam memperhatikan kami
"Bagaimana kabarnya? Tanya pria itu kpd suamiku, masih terdengar dari dapur
Aku melanjutkan acara masak-memasak ku yang sempat' terputus ketika suamiku memintaku membuatkan teh untuk sahabatnya yang rutin silaturahmi ke rumah 2 kali dalam sebulan
Aku menikah dengan suamiku bukanlah sebuah kebetulan
Dia
Pria yang kucintai
Yang memilihkan sahabat terbaik nya untuk ku
"Jika kau bukan takdir ku, smg Allah memberi kan imam terbaik untukmu"
"Aku tidak ingin kau jatuh kembali ke tangan yang salah"
Ku tata menu-menu yang selesai dimasak diatas meja.
derapan langkah kaki terdengar mendekati dapur
"Cekatan sekali istri mungil mu dalam menghidangkan makanan" pujiny tanpa melihat kepadaku
Mereka mulai sarapan, dan saling berbincang
Sementara aku
Larut dengan pikiranku sendiri
"wah..Sekarang kau gemuk dan terawat" canda pria itu kpd suamiku sebelum mereka benar-benar keluar dari ambang pintu
"Raiha, jaga amanah y" nasihat suamiku mengusap kepalaku
Aku tertawa lucu langsung meraih tangan ny di kepala ku kemudian mencium nya "mm.. mau di masakin apa, kalau pulang ?
"Apapun yang kau masak, saya makan, asal jangan di racun" ucap suamiku tertawa geli
Aku melotot kaget dan mencubit lengannya main-main "udah sana pergi, sebelum pikiran ku berubah dan menahanmu dirumah"
Lihat lah, dia, suamiku mencium pipiku sekilas kemudian berlalu dari hadapanku
Aku tertegun dan khawatir
Ku kulihat pria itu terdiam melihat ku dengan pandangan sulit diartikan
pintu ku tutup dengan segera
Sakit itu mulai mulai menjalar
Bukannya aku tidak mencintai suamiku
Sebelum menikah dengan suamiku
aku yakin
Bahwa Allah yang menyatukan kami, Allah pula yang akan menumbuhkan cinta diantara kami
Cinta itu sudah bersemi dalam rumah tangga yang aku dan suamiku bina
Dengan hadirnya balita mungil yang masih tertidur pulas di kasur mini nya sambil menghisap jempol mungilny sbg anugerah Allah yang tak terhingga
dihatiku nama suamiku lah yang bertahta
sementara
pria itu
menempati ruang lain dihatiku sebagai seseorang yang pernah hadir dalam hidup ku.
The end
"Sebagian orang berdoa, ingin menikah dengan pria yang mereka cintai, doaku sedikit berbeda, aku ingin mencintai pria yang aku nikahi"
"niat yang diawali baik akan berakhir dengan kebaikan"
Airlangit
Komentar
Posting Komentar